Sabtu, 02 Juli 2011

Tokoh Filsafat


TOKOH FILOSOF MUSLIM
(IBNU BAJJAH)
A.    Latar Belakang Ibnu Bajjah
Ibnu Bajjah adalah filosof muslim yang pertama dan utama sejarah kefilsafatanya di Andalusia. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhamad ibn Yahya ibnu al-Sha’iqh yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Bajjah.
Avempance begitulah orang barat biasa menyebut ibnu bajjah, dia dilahirkan pada tahun 1082 M di Saragosa Sepanyol. Nama Ibnu Bajjah berarti “anak emas”. Ibnu Bajjah mengembangkan ilmu pengetahuan dizaman kekuasaan dinasti Murabbitun. Ibnu Bajjah bukan hanya seorang filosof muslim tetapi juga seorang saintis yang menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan seperti kedokteran, astronomi, fisika, musikus, dan matamatika.
Ibnu Bajjah juga terkenal sebagai penyair yang hebat. Pamanya sebagai sastrawan dan ahli bahasa sangat mengkilap salah satu bukti kehebatannya di bidang sastra dibuktikanya dengan meraih kemenangan dalam kompetisi bergensi dizamanya. Emilo Gracia Gomes dalam esainya bertajuk, Moorish Spain, mencatat Ibnu Bajjah sebagai seorang sastrawan hebat.
Menurut seorang penulis kontemporer Ibnu khaqan, Ibnu bajjah dalam bidang musik ia piawi bermain gambus yang lebih mengesankan lagi ibnu bajjah adalah ilmuan yang hafal al-Qur’an selain menguasai beragam ilmu, ibnu bajjah pun dikenal sebagai politikus ulung.
Kehebatan dalam berpolitik mendapat perhatian dari Abu bakar ibrahim, gubernur Sargosa. Ia diangkat sebagai menteri oleh Yahya Ibnu yusuf Ibnu Tashukhfin, saudara sultan dinasti Murobitun Yusuf ibn tashufin.
Kehebatannya dalam berfilsafat setara dengan al-farabi atau Ariestoteles. Pemikiranya tentang filsafat sangat mempengaruhi Ibnu Rusdy dan Albertus magnus. Ibnu bajjah menemukan gagasan filsafat ketuhannan. Ia menetapkan bahwa manusia boleh berhubungan dengan akal fa’al melalui perantara ilmu pengetahuan dan pembangunan potensi manusia.
Pandangan filosof multitalenta ini dipengaruhi oleh al-farabi. Ia menuangkanya di dalam risalah dan kitab Muhawahid di dalam risalah dan kitab tersebut terlihat jelas pembelaanya terhadap karya-karya al-farabi dan Ibn Sina. Sebagian pemikir menyatakan bahwa kitab  Tadbir al-wahid sama dengan buku al-madinah al-fadhilah yang ditulis oleh al-Farabi.
Tadbir muttawahid merupakan karangan yang popular dan penting. Kitab ini membicarakan usaha-usaha yang menjahui segala macam keburukan masyarakat yang disebutnya “Muttawahid” yang berarti “penyendiri” isi risalah tersebut cukup jelas, sehingga memungkinkan kita dapat memberi gambaran tentang usaha seseorang penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal fa’al dan menjadi salah satu unsure pokok bagi negeri idamannya.
Al-Farabi dan Ibnu bajjah memperlakukan ilmu untuk mengatasi segala-galanya. Mereka hampir sependapat bahwa akal dan wahyu merupakan suatu hakikat yang pada upaya untuk memisahkan kedua-duanya hanya akan melahirkan sebuah masyarakat dan Negara yang pincang, oleh karena itu akal dan wahyu harus menjadi dasar dan asas pembinaan sebuah Negara serta masyarakat yang bahagia.
Ibnu bajjah sangat menguasai logika – menurutnya, suatu yang dianggap ada itu sama benar-benar ada atau tidak ada bergantung pada yang diyakini ada atau hanyalah suatu kemungkinan justru apa yang diyakini itulah sebenarnya satu kebenaran dan satu kemungkinan itu boleh jadi mungkin benar atau salah.
Ibnu bajjah juga terkenal dengan ungkapan yang menyebut manusia “makhluk sosial” pendapat itu dibenarkan jauh sebelum sarjana barat mencetuskanya. Ia menguraikan konsep masyarakat madani dalam tulisanya pada abad ke 11 M.
Ibnu bajjah hidup di Servile Granada, dan ia menulis beberapa risalah tentang logika di kota Servile pada tahun 1118 M, dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M ketika usia belum tua karena diracun oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu dan ketenaranya.

B.     Karya-karya Ibnu Bajjah
Ibnu bajjah mempunyai banyak karya-karya diantaranya:
1.      Risalah al-Wada’, berisi tentang penggerak pertama bagi wujud manusia dalam serta beberapa uraian mengenai kedokteran.
2.      Risalah Tadbir al-Mutawahid (tingkah laku sang penyendiri)
3.      Kitab an-nafs berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab
4.      Tardiyyan, berisi tentang pujian
5.      Risalah al-Itts hal al-aql bil al-ihsan (hubungan akal dengan manusia), berisi tentang pertemuan manusia dengan akal fa’al
6.      Kitab an-nabat
7.      Risalah al-Ghayah al-Insaniyyah.

C.    Filsafat Ibnu Bajjah
  1. Materi dan bentuk
Menurut pandangan Ibnu bajjah materi (al-hayula) tidak mugkin bereksistensi tanpa bentuk (al-Syarat). Sementara itu bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya tanpa materi. Jika tidak secara pasti kita mugkn dapat menggambarkan ada modifikasi (perubahan-perubahan) pada benda. Perubahan tersebut adalah suatu kemungkinan dan inilah yang dimaksud dengan pengertian bentuk materi.
Pandangan Ibnu bajjah ini diwarnai oleh pemikiran Aristoteles dan Plato. Menurut Ariestoteles, materi adalah suatu yang menerima bentuk yang bersifat potensialitas dan dapat berubah bentuk. Sedangkan menurut Plato bentuk adalah nyata dan tidak membutuhkan sesuatupun untuk bereksistensi. Bentuk menurut Plato terdapat di luar benda. Bentuk menurut ibnu bajjah mencakup arti jiwa, daya, makna, dan konsep bentuk hanya ditangkap oleh pancaindera. Bentuk pertama, merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi, yang dikatakanya sebagai tidak mempunyai bentuk.
Bentuk menurut Ibnu Bajjah bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling rendah adalah bentuk materi yang pertama dan paling tinggi adalah bentuk akal pemisah (al-‘aql al-munfarid). Jenis bentuk yang pertama memiliki satu hubungan yakni hubungan dengan menerima jenis bentuk kedua (khusus) mempunyai dua hubungan umum dengan yang terasa. Jenis bentuk yang ketiga adalah bentuk yang bereksistensi pada materi.
Contoh
Kita ingat bentuk ka’bah. Bentuk ka’bah yang kita ingat sama dengan bentuk ka’bah yang nyata. Kalau tersebut berada di depan mata ini dinamakan bentuk rohani umum. Bentuk ini juga mempunyai hubungan dengan wujud umum yang terasa sebab banyak orang yang melihat ka’bah ini dinamakan bentuk khusus. Sedang bentuk fisik yaitu ka’bah itu benar.
  1. Ahlak
Ibnu bajjah membagi perbuatan manusia menjadi hewani dan manusiawi. Perbuatan hewani didasarkan atas dorongan naluri untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsu sedang perbuataan manusiawi adalah perbuatan yang didasarkan atas pertimbangan rasio dan kemauan yang bersih lagi luhur.
Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi ibnu bajjah bukan perbuataanya tetapi motifnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa manusia yang mendasarkan perbuatanya atas irodah yang merdeka dan akal budi akan mencapai kebahagiaan.
Manusia menurutnya, apabila perbuataanya dilakukan demi memuaskan akal semata, perbuatannya ini mirip dengan perbuatan ilahi dari pada perbuatan manusiawi, hal ini merupakan keutamaan karena jiwa telah dapat menekan keinginan jiwa hewan yang selalu menentangnya. Perbuatan seperti itulah yang dikhendaki oleh ibnu bajjah bagi warga masyarakat yang hidup dalam Negara utama. Tujuan perbuatan manusia ada tiga tingkatan yaitu tujuan jasmani, tujuan rohani khusus, tujuan rohani umum.
  1. Manusia Penyendiri
Manusia penyendiri (al-Insan al-munfarid) pemikiran ini tertuang dalam magnum opumnya dalam kitab “Tadbir al-Muttawahid”. Lafal Tadbir adalah bahasa Arab dalam pandangan ibnu bajjah ialah mengatur perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Lebih lengkap ibnu bajjah menjelaskan tadbir bahwa kata ini mencakup pengertian umum dan khusus pengertian khusus ialah pengertian Negara dalam mencapai tujuan tertentu yaitu kebahagiaan.
Adapun yang dimaksud dengan istilah al-muttawahid ialah manusia penyendiri, dengan kata lain seseorang atau beberapa orang mereka mengasingkan diri masing-masing secara sendiri, tidak berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain tidak mungkin sebab dikhawatirkan akan terpengaruh dengan perbuatan tidak baik.
Al-Muttawahid yang dimaksud ibnu bajjah ialah seorang filosof hidup meyendiri pada salah satu Negara dari Negara yang tidak sempurna, seperti Negara Fasiqah jahiliyyah berubah dan lain-lainya.
Manusia penyendiri (uzlah) yang dikemukakan oleh ibnu bajjah adalah uzlah aqliyyah berbeda dengan uzlah sufi yang dikemukakan oleh al-Ghazali. Bahkan ibnu bajjah mengkritik al-ghazali yang bertentangan dengan tabiat dan watak manusia sebagai makhluk sosial. Pengasingan diri mereka cukup hanya berhubungan dengan ulama atau ilmuan. Akan tetapi apabila tidak ditemukan ulama atau ilmuan mereka harus mengasingkan diri secara total tidak berhubungan sama sekali dengan masyarakat kecuali dalam hal yang tidak dapat dihindarkan sekedar keperluan dan kebutuhan.
Filsafat manusia penyendiri ibnu bajjah di atas mirip dengan ajaran tasawuf agar manusia meniru sifat-sifat Allah. Hal ini dimaksudkan bukan menyaingi Allah, tetapi manusia diharapkan agar mengembangkan sifat baik yang terdapat dalam dirinya.
Manusia Penyendiri ibnu bajjah bukan khayalan semata. Paling tidak bisa terjadi seperti ghaibnya iman-iman dunia syi’ah. Memang dalam syi’ah ismailiyyah dan syi’ah isna’ asyariyah terdapat dalam konsep imam ghaib (tersumbunyi) dari persembunyian itulah mereka memimpin syi’ah. Namun ada yang meragukan dan mengkritiknya karena terlalu mengabaikan aspek estoris manusia dan terlalu menonjolkan aspek aqliyah. Filsafat ini dapat dikelompokan kedalam filosof yang mengutamakan amal untuk mencapai derajat manusia yang sempurna.
Filsafat ibnu bajjah ini cocok dengan zaman moderen ini. Manusia apabila hidup dalam masyarakat yang bergemilang dalam kemaksiatan dan kebobrakan atau masyarakat matrealitis harus membatasi pergaulannya dalam masyarakat dan ia hanya berhubungan dengan masyarakat ketika memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan semata.

D.    Analisis
Ibnu bajjah merupak filosof muslim yang pertama di Andalusia. Filsafatnya setara dengan al-Farabi, Ibnu bajjah memiliki pengetahuan luas dan terkenal sebagai penyair.
Ibnu bajjah mengarang kitab yang isinya hampir mirip al-farabi yaitu Tadbir al-Muttawahid samadengan al-Madinah al-fadillah. Filsafat yang terkenal ialah manusia penyendiri (uzlah). Filsafat ini mirip dengan ajaran tasawuf agar meniru sifat-sifat Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Haryimsyah. Filsafat islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1999.
Zar, Sarjuddin. Filsafat Islam dan Filsafatnya. Jakarta: Rajawali. 2009.
http = // elfalasy 88. word press. Com / 2008 / 08 / 21 / Ibnu Bajjah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar